Puzzle, permainan membentuk suatu wujud dengan cara menyusun serpihan-serpihan hingga menghasilkan kesempurnaan bentuk. Diperlukan kecermatan dan ketelitian dalam memilih serpihan yang cocok.
Bagiku, hidup tak ubahnya seperti puzzle. Kita harus mencari serpihan-serpihan kehidupan, dari mulai yang berbentuk sederhana sampai jelimet. Mungkin kita menemukan serpihan-serpihan itu di jalan, sawah, sekolah, gedung bertingkat, rumah sendiri atau tempat-tempat lain. Lalu menyusunnya satu demi satu, hingga menyerupai seperti yang kita inginkan.
Setiap tahun ku tengok puzzle itu, ternyata belum juga sempurna. Sampai detik ini pazzleku belumlah lengkap, bolong di sana-sini masih terlihat. Aku harus mencari serpihan-serpihan itu entah dimana, kemudian memperhatikannya dengan cermat rupa dan warnanya, lalu kutelakan di tempat yang sesuai. Sudah pasti aku memerlukan bantuan Tuhan juga alam untuk mewujudkannya dan mungkin uluran tangan orang-orang di sekelilingku.
Setiap tahun pula di tanggal yang sama benakku selalu teringat akan sebuah buku. Buku yang berisi kisah tak spectacular bagi orang lain. Bukan buku seperti karangan Agatha Christie yang penuh misteri bukan pula karya Kahlil Gibran yang puitis mengiris hati. Hanya tentang lahirnya seorang bayi dan kesehariannya sampai usia balita.
Tapi, buku itu sangat istimewa bagiku, selalu membuatku menitikan air mata. Ku lihat di sana, ada cinta murni dan perhatian yang tulus dari seorang nenek pada cucunya. Tokoh utama dalam kisah itu adalah diriku, sedangkan penulisnya nenekku sendiri, ditulis tangan dengan rapi oleh Beliau. Aku tidak akan menulis tentang buku itu panjang-lebar, karena sudah pernah kuceritakan tahun lalu (silakan lihat “1:3016”).
Kan kucari terus serpihan-serpihan itu tuk menyempurnakan pazzleku ditemani buku kecil nan penuh makna. Kan ku ikuti jalan yang Kau berikan. Kan ku biarkan alam menerangi dan menuntunku. Kan ku tanam butir-butir keikhlasan dalam jiwaku.
kemarin kita adalah mainan yang ada di tangan sang nasib, tetapi kini nasib telah tersadar dari mabuknya, lantas bermain, tertawa dan bergandengan dengan tangan kita
alam, adalah benda besar dari mimpi-mimpi kita yang mendalam, mengabulkan permohonanku dan mengubahku menjadi setangkai mawar dengan jari-jemari magisnya
(Kahlil Gibran)
*terimakasih untuk orang-orang yang menyayangiku*

dapatkan aku ikut melengkapi puzzle-mu?? ah, sudahlah…
dapat… isi formulir dulu ya, terbuka untuk umum koq… hehe
ah, sudahlah juga…. *biar kumpak*
Fotomu yang dipazzelin oke oge eui? Gw kalah set deui, baru bisa otak-atik gaya poster… where have I been? Aluzlah syip.
Dewa Budjana gada komen skrg? Cari judul yg nyenggol2 deh
Siapa nyaho Dewa Cupid or Dewala ngasi opini, ya nda? Qik3
akh bisa ajah… jadi malu, kudu rajin ngoprek atuh… hehe
ntar ya… wang bikin yg nyenggol2, biar si eta nungul lagi di sini…
*ngacir, ngabecir deuk muru formulir pendaftaran takut kehabisan*
buru atuh… pendaftar ke 100, dapet piring cantik…
formulirnya onlen gak
wah… blm onlen, masih gaptek
Hidup ini hanya kepingan yang terasing di lautan (PAS)
memaksa kita memendam kepedihan…
duhai pengurai dukaku
masihkah ada pendar pelangi di sana?
pelangi kan berpendar molek, bila merasakan hangatnya lazuardi…
bkn brarti kepingan puzzle yg sudah terkumpul tidak bisa hilang